Tags

,

Waaa kuliah kuliah kuliah
Begini ternyata jadi anak kuliahan yang sebenernya
Tugas numpuk
Pulang malem
Ngerjain tugas di perpus sampe diusir sama penjaganya haha
Dan sekarang udah mau UTS aja
Well well
Gue pengen curhat nih *eh? dari awal juga udah curhat itu..
Gue kan ikutan Lomba cerpen, dan gue belum berhasil jadi pemenang
Bahkan pemenang favorit yang beratus-ratus itu
Yah, nothing to lose sih
I enjoy it! Haha
So, this is my short story that I’ve sent to the competition.. Enjoy!

BUKA!

Sabtu pagi yang segar. Semalam hujan turun lebat. Meninggalkan bau khas tanah yang basah akibatnya. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Mataku langsung tertuju ke rumpun mawar putih di dekat pagar. Bayangan Mama yang sedang merawat rumpun indah itu terlintas dalam lamunan.
“Mama, apa kabar di sana?” bisikku lirih.
Aku ingat cerita di balik mawar putih itu. Ketika Papa menyatakan cintanya pada Mama, Papa menggotong satu pot besar mawar putih. Papa menggotong pot besar itu sendirian dari toko tanaman hias yang cukup jauh di ujung jalan raya. Mama yang saat itu sedang merajuk langsung luluh dan memeluk Papa erat. Mama meneteskan air mata saat Papa berkata, “Mawar putih ini tanda cinta saya yangn tulus dari hati yang terdalam untuk adik. Selama mawar ini tumbuh, cinta saya untuk adik akan terus tumbuh juga dan takkan pernah pudar.”
Adegan romantis itu langsung buyar saat ketel air berbunyi nyaring, menuntut minta diurus. Dengan gontai, aku berjalan ke dapur. Sesampai di dapur, aku mematikan kompor lalu menuang air panas dalam ketel ke termos air.
Ini sudah menjadi rutinitas pagiku sejak Papa dan Mama meninggal setahun yang lalu. Mereka mengalami kecelakaan pesawat saat aku baru saja menyelesaikan Ujian Nasional SMP. Meninggalkanku mengurus semua keperluan rumah sendirian. Untungnya, rumahku tidak terlalu besar karena Papa sangat menyukai kesederhanaan. Jarang seorang pengusaha sukses menganut kesederhanaan seperti Papa.
“Papa, apa kabar di sana?”
Ponselku tiba-tiba berbunyi. Nomor ponsel pacar kakakku terpampang di layar. Ya, untungnya lagi, aku masih mempunyai seorang kakak, Kak Bella. Tapi, ada apa, ya, Kak Rio meneleponku? Daripada penasaran, aku menerima panggilan teleponnya.
“Halo?” sapaku.
“Halo, Cha. Kak Bella ada?” tanyanya dengan nada cemas.
“Biasanya, sih, ada di kamar. Tidur. Emangnya kenapa, Kak?”
“Tidur? Lho, tadi malem dia ngga kerja kok. HP-nya juga ga aktif. Beneran dia di kamar?”
Aku memandang pintu kamar Kak Bella yang tertutup rapat. Dahiku mengerut. Kak Bella tidak pergi kerja? Oh, iya, aku kemarin pulang agak malam. Kak Bella bekerja sebagai bartender di sebuah bar yang cukup terkenal di ibukota. Dia pergi jam 7 malam dan pulang jam 4 pagi. Jadi, aku kurang tahu tentang hal itu. Tapi, kenapa Kak Bella tidak mengaktifkan ponselnya? Tidak mungkin. Kak Bella pasti mengaktifkan ponselnya. Kalau dia tidak ingin diganggu saat tidur, pasti dia akan men-silent ponselnya. Ponselnya sering menunda pesan yang masuk ketika ponselnya dimatikan. Dia kesal sekali saat pesanku soal kematian orang tua kami telat masuk ke ponselnya.
“Aku ngga tahu sih Kak Bella ada di kamar apa ngga. Belum ngecek,” tanggapku sambil melangkah ke kamar Kak Bella. Aku meraih gagang pintu lalu menekannya ke bawah. Terkunci. “Mungkin masih tidur.”
“Masa sih? Dia kan ngga kerja.”
Aku diam. Aku mulai khawatir soal Kak Bella.
Kak Rio yang sepertinya menyadari kecemasanku, akhirnya berkata, “Mungkin dia nginep di tempatnya Hesti kali ya. Nanti Kakak kabarin lagi deh. Bye, Cha.”
Aku tiba-tiba ragu. Aku teringat kejadian beberapa bulan lalu saat aku mencoba membangunkan Kak Bella jam 8 pagi. Aku terpaksa membangunkannya karena Om dan Tanteku datang dari Surabaya untuk bersilaturahmi dan memeriksa keadaan kami setelah Papa dan Mama meninggal. Aku mencoba membangunkan Kak Bella. Aku menggedor-gedor pintu kamarnya. Berhasil. Pintu itu terbuka. Kak Bella keluar dengan tampang kusut dan mata lelahnya yang memerah. Tanpa tendeng alih-alih, aku ditarik dari depan kamarnya sampai ke dapur.
“JANGAN PERNAH LO BANGUNIN GUE KAYAK GITU LAGI! YANG BOLEH NGEBANGUNIN GUE CUMA MAMA! JANGAN BANGUNIN GUE BAHKAN KALO ADA KEBAKARAN SEKALIPUN! NGERTI LO?!” bentaknya histeris.
Aku menciut di sudut. Menunduk ketakutan. Kak Bella meraih piring di bak cucian lalu melemparnya tanpa ampun ke lantai. Dia benar-benar marah. Aku menutup telingaku. Kakiku lemas. Aku jatuh bersimpuh ke lantai. Air mataku mengalir jatuh tanpa kusadari. Aku sangat terguncang dengan kemarahan Kak Bella. Dia menghentakkan kakinya sebelum berjalan cepat kembali ke kamarnya. Ingatan akan bantingan pintunya membuyarkan lamunanku.
Aku menelan ludah. Bayangan itu masih terlalu jelas. Aku bersandar pada pintu kamar Kak Bella. Apa yang harus aku lakukan?
***
Jam dinding antik peninggalan kakek menunjukkan pukul 5 sore. Aku menghempaskan tubuh kurusku yang lelah ke sofa. Beres-beres rumah kali ini sangat melelahkan. Pekerjaan ini bertambah berat dengan adanya Kak Bella yang tidak baik-baik saja di otakku. Pintu itu masih tertutup rapat.
Aku memandang telepon rumah di sebelah kiriku. Benarkah ponsel Kak Bella tidak aktif? Apa ponselnya rusak? Apa ponselnya habis baterai? Sebegitunyakah Kak Bella tidak mau diganggu? Dengan ragu, aku meraih gagang telepon. Jariku menekan nomor ponsel kakakku cepat. Kemudian, menunggu.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada..”
Aku menekan tombol redial. Nihil. Masih tidak aktif. Dengan putus asa, aku membanting gagang telepon ke tempatnya. Aku merebahkan diri di sofa. Memandang televisi yang gelap dan menghitam. Membawa ingatanku kembali ke Minggu sore sehabis Kak Bella marah.
Kak Bella keluar dari kamarnya. Aku yang sedang tengkurap mengerjakan tugas sambil menonton televisi melirik takut ke arahnya. Kaki jenjang Kak Bella berjalan menuju dapur. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan sekaleng minuman bersoda dan sebungkus besar keripik singkong. Aku mengira dia akan kembali ke kamarnya. Namun, tidak. Dia malah berjalan ke arahku. Dia melewatiku dan menghempaskan dirinya di sofa. Aku berkonsentrasi melukis untuk tugas seni rupaku. Tidak berani mengangkat kepala bahkan untuk menonton televisi.
Tak diayal, keheningan tercipta di antara kami. Hanya ada suara televisi yang sedang menyiarkan drama Korea. Hanya ada suara desis soda saat Kak Bella membuka minuman kalengnya. Hanya ada suara sobekan plastik pembungkus keripik. Hanya ada…
“Sori, tadi pagi gue marah-marah. Gue lagi capek, Cha..”
Suaranya yang lembut membuat gerakan tanganku terhenti. Hening lagi. Terdengar suara renyah keripik singkong yang lumat Kak Bella.
Kak Bella.. Setelah Mama dan Papa pergi.. Hanya Kak Bella yang aku punya. Hanya aku yang Kak Bella punya. Kak Bella tidak pernah membenciku. Aku yang bodoh karena sudah berpikir kalau Kak Bella jahat padaku. Kak Bella tidak pernah memanfaatkanku. Aku yang egois berpikir kalau hanya aku yang bekerja keras mengurus rumah. Kak Bella rela bekerja semalaman demi aku. Rela menelan cibiran pahit tetangga karena menjadi seorang bartender. Rela metabolisme tubuhnya berantakan karena tidak pernah tidur malam. Kak, seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah sempat membenci dan mengutuk Kakak tadi pagi. Aku yang salah.
“Om Farhan udah pulang, Cha?” tanyanya, masih dengan nada suaranya yang lembut menenangkan.
“Katanya mereka mau ke rumah Eyang Putri, Kak,” jawabku. Suaraku agak tercekat karena menahan tangis yang sudah sampai di tenggorokan.
Kak Bella tiba-tiba sudah berjongkok di sampingku.
“Bikin apa lo, Cha?” tanyanya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Tugas seni rupa,” jawabku pelan. Gerakan kuasku sedikit melambat.
“Oh. Jangan sampe kena karpet ya catnya. Susah ilang, lho,” pesannya.
Aku hanya mengangguk. Olesan catku semakin pelan. Kak Bella sepertinya mengerti kalau aku tidak suka dilihat sedekat ini. Dia bangun dari jongkoknya. Sebelum berjalan ke kamarnya, dia mengacak-ngacak rambutku gemas.
“Pinter gambar juga lo ternyata,” komentarnya sambil lalu.
Aku tertegun. Hanya bisa memandangi badan rampingnya menghilang di balik pintu kamar.
***
Aku berdiri di depan kamar Kak Bella. Aku tidak tahan dengan rasa cemas ini. Jadi, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.
Aku mengetuk pelan.
“Kak..” panggilku lirih.
TIdak ada jawaban. Aku mencoba mengetuk lebih keras. Memanggil lebih keras.
“Kak! Kak Bella! Buka, Kak!”
Kekhawatiranku menggila. Aku terus mengetuk, memanggil, dan memohon.
“Kak Bella, please, bangun, Kak!”
Ketukanku beubah menjadi gedoran.
“Kak Bella! Kak Bella!”
Panggilanku berubah menjadi jeritan. Histeris seperti orang gila.
“Kak, buka, Kak! Please! BUKA!”
Aku menendang-nendang. Aku menggedor-gedor.
Aku takut! Aku marah! Aku menangis! Aku menjerit! Aku mau bertemu Kak Bella! Aku ingin melihat Kak Bella baik-baik saja! Aku HARUS membangunkan Kak Bella!
“Kak, buka! Kakak pasti di dalam kan, Kak?! KAKAK!!”
Aku tidak peduli! Aku tidak peduli kalau Kak Bella marah! Membanting ini! Membanting itu! Aku tidak peduli!
“Kak Bella! Buka! Aku ngga mau sendirian!”

***
Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Aku jatuh tertidur di depan pintu kamar Kak Bella sehabis menangis sejadi-jadinya tadi sore. Pintu ini masih tertutup. Apa semua teriakanku sia-sia? Kak Bella tidak ada di dalam? Tidak! Kak Bella ada di dalam. Pasti! Kak Bella HARUS ada di dalam!
Tangisku pecah lagi. Aku kembali mengetuk pintu kamar Kak Bella.
“Kak.. buka, Kak..” pintaku lemah.
Suara bel pintu membuatku kaget. Kak Bella! Kepalaku masih pusing saat aku mencoba bangun. Aku menguatkan diri dan berlari ke arah pintu depan.
“Kak Bella!” jeritku saat membuka pintu.
Tidak ada Kak Bella. Hanya ada Kak Rio yang menangis. Harapanku lenyap. Akal sehatku memaksaku mengingat bahwa Kak Bella tidak pernah menekan bel, Kak Bella selalu membuka pintu dengan kunci cadangan, Kak Bella tidak pernah merepotkanku untuk membukakan pintu dan Kak Rio tidak pernah menangis kecuali di pemakaman ayahnya. Apa ini artinya.. Aku menggeleng pelan. Tidak! Tidak mungin!
“Cha..” ucapnya berat.
Tiba-tiba dia memelukku erat. Tangisnya membuncah.
“Bella, Cha..”
“Ka.. Kak Bella..”
“Bella udah ngga ada, Cha..”
Tubuhku kaku. Pandanganku kosong.
“Bella dibunuh..”
Sakit di kepalaku menguat. Darahku mendidih.
“Be.. Bella diperkosa, Cha..”
Kakiku lemas. Mataku panas.
“Bajingan-bajingan itu..”
Pendengaranku kabur. Penglihatanku memudar.
Gelap.

note : sebenernya ada terusannya lagi, tapi, just wondering what happen next with your own imagination :p

====================================================================================

kalo dibandingin sama karya-karya yang ada di sini, cerpen gue jauuuuuuuuuuuuuuuuh banget kualitasnya. Liat aja, bahasanya bahasa dewa gitu. Keren2.

Tapi yaa, yang jelas gue udah menang dari diri gue sendiri karna gue udah mau usaha. Gue akuin gue suka pura-pura. Gue pura-pura suka nulis, gue pura-pura suka baca, gue pura-pura suka gambar, gue pura-pura bisa ngerjain tugas dan ujian… Gue pura-pura karna gue percaya sebenernya manusia emang bisa ngelakuin segalanya asal dia mau usaha dan belajar. Di Eyeshield 21, Sena sering bilang “To make a lie become the truth.” *kalo ga salah*. Membuat kebohongan menjadi kebenaran. Jadi sebenernya ga bener-bener bohong kan? Bohong itu  dosa lho :mrgreen: