Tags
IPB, K-ON!, my short story, One of My Ordinary Days, UTS, whatever
Hey, hey, wi, kayaknya ada yang beda deh?
Iya dong! Haha. Bosen puoooool saya. Pergantian themes blog menandakan gue sudah amat sangat bosan sekali.

Musim-musim ujian itu musim dimana hal yang seharusnya dikerjakan di waktu luang malah dikerjakan untuk menjadi pelarian dari yang namanya belajar. Terus jadi bahan keluhan deh ke temen.
“Duh, belom belajar nih. Malah asik nonton coba semalem. Gimana dong???” (jangan lupa pasang tampang kusut)
Lalu, sehabis selesai mengerjakan soal ujian, muka tambah kusut. Ngelamunin soal yang seharusnya bisa dijawab. Nyesel sendiri. Ngedumel sendiri.
“Harusnya kalo baca atau latihan soal, pasti bisa ngerjain. Itu tadi harusnya jawabnya begini, yang ini begitu. Kenapa kemaren malah ditunda-tunda terus sih belajarnya????” (tendang batu pas diperjalanan pulang)
atau…
“Pasti ini udah diajarin dosennya deh. Harusnya gue ga tidur waktu beliau jelasin..”
Tapi mau gimana lagi?
Saya bosan…
Ga ada gairah kaya minggu-minggu awal kuliah.
Gue paling anti tidur di kelas. Dulu. Sepanjang sejarah pendidikan gue, gue baru tiga kali gue tidur di kelas. Pertama, pas SMP kelas tiga, lagi sakit gue waktu itu. Kedua, SMA kelas 3, capek abis olahraga, tidur deh pas pelajaran Agama (astagfirullah…). Dan terakhir, pas kuliah Biologi, itu hari Senin pagi, dosennya bikin ngantuk banget, gue-nya abis begadang. Habis sudah.
Dan setengah semester ini, entah berapa kali gue tidur di kelas. Kalo dosennya bukan Pak Damanik, Bu Ikeu, Pak Rimbawan, Dokter Vera, Bu Katrin, atau kalo gue ga duduk di depan, pasti tidur. Suer, gue paling ga enak sama dosen kalo ga ngedengerin beliau. Gue respek sama mereka. Tapi, oh, tapi, bosen!
Biasanya dulu gue nyoret-nyoret, gambar-gambar, apa kek gitu yang bikin ga ngantuk. Sekarang ga mempan.
Pernah gue bosen, bete, ga mood, pas jeda pergantian mata kuliah langsung cabut ke rental komik baca K-On! It works! Mood gue balik lagi.
Nah, ini juga yang gue lakuin buat dapetin mood belajar UTS. Nonton, baca komik, nulis cerpen, nyanyi, teriak-teriak, tidur bahkan. Gagal. Gue terpuruk dalam sistem gue sendiri. Tragis.
Butuh suntikan semangat! ASAP!
Ini ada satu pelarian gue dari kenyataan ujian yang membosankan. #11projects11days dari nulisbuku.com. Jadi, publisher buku online gratis ini ulang tahun, mereka bikin project dimana project itu berlangsung 11 hari (11 Oktober 2011-21 Oktober 2011). Setiap harinya, kita ditantang buat bikin karya (puisi, cerpen super pendek, flash fiction atau apalah itu) berdasarkan tema yang mereka kasih. Temanya berupa lagu. Usahain karya kita itu kalo dijadiin film, ya lagu itu soundtrack-nya. Menantang kan?
Malam sebelum UTS Metode Statistik (18 Okt), gue iseng ngintip tema project hari itu. Bunuh diri. Ternyata lagunya Cemburu dari Dewa. Langsung otak gue mikirin suatu kisah yang terinspirasi dari kasus temen gue. Ga peduli lagi sama ujian. Gue malah brainstorming bikin plot yang pas. Sempet ga mau nerusin karna yaa ujian itu. Akhirnya, kelar sendiri ceritanya. Ga panjang. Cuma 300-an kata.
This is it~ Enjoy!
We Love You
Kurebahkan kepalaku di atas meja perpustakaan. Mataku tertumbuk pada satu wajah tampan dari seorang pria di sebelahku, Reihan. Tampang seriusnya saat membaca membuatku gemas. Seperti tahu kalau diperhatikan, dia melirik ke arahku. Aku memasang senyum manja. Dia membalas senyumku manis. Lesung pipitnya… garis kerut di ujung matanya… deretan gigi putihnya…
Namun, tiba-tiba…
BRAKK!!
Seseorang memukul meja kami. Keras sekali.
“Auw!” aku mengaduh. Telingaku berdenging. Kepalaku pening.
“Na, kamu apa-apaan sih?!” marah Reihan.
Dia langsung berdiri dan menarik tangan Gina, pacarnya. Semua mata di perpustakaan itu melihat ke arah kami.
“Kamu tuh yang apa-apaan!” balas Gina sengit. “Aku telepon, sms, BBM, dari tadi ga dibales!”
“Hape aku ketinggalan, Na.” Reihan meraih rambut Gina untuk dielusnya, tapi Gina langsung menghela tangannya.
“Alesan!” sergah Gina.
“Aku ngga bo’ong, Na.”
“Ah, whatever! Ngapain kamu berduaan sama cewek kampungan ini?” Gina menunjuk mukaku sadis.
Mukaku panas. Reihan melirik cepat. Memintaku untuk sabar. Sabar? Rei, aku sudah cukup sabar selama 2 tahun! Aku mendelik marah ke arahnya. Reihan menghindari tatapanku, fokus pada Gina.
“Aku lagi ngerjain tugas sama dia, sayang.”
“Bohong!” jerit Gina.
Keributan ini dihiasi dengung-dengung kecil di sekitar kami. Reihan menarik tangan Gina. Membawanya keluar dari perpustakaan. Aku mengejar mereka, tidak betah menanggung gosip-gosip yang tersebar cepat di ruangan itu.
Di kejauhan, Reihan terlihat masih perang mulut dengan Gina. Langkahku terhenti saat Reihan memeluk tubuh Gina. Gina masih memberontak dalam pelukan Reihan. Tak lama, Gina lebih tenang dan menangis sesenggukan.
Jujur, hatiku panas. Aku heran dengan diriku sendiri. Sudah sering sekali kejadian yang mirip-mirip seperti ini, tapi tetap saja hati ini terbakar dengan api yang sama. Aku bingung dengan diriku sendiri. Dengan siapa aku marah? Reihan? Tidak, Reihan hanya terjatuh dalam lubang kesalahpahaman yang keji. Gina? Tidak, mantan sahabatku ini tidak salah. Dia hanya mencintai Reihan seperti aku mencintai lelaki itu. Takdir sebagai pacar bayangan?
Ah, seandainya saja Gina tidak salah paham 2 tahun yang lalu. Seandainya saja Gina tidak posesif. Seandainya saja Gina ikhlas dan tidak mengancam bunuh diri setiap Reihan meminta putus dengannya. Seandainya saja aku kuasa melakukan sesuatu, bukan hanya menangis seperti sekarang…
==================================================
Sekarang project-nya udah kelar. Bosen lagi. Orang-orang tuh ya pada menghindari lapak DVD di saat-saat genting (baca: ujian) seperti ini. Eh, gue malah ngeborong. 3 film sama 1 movie collection-nya om Tom Hanks. Oh ya, satu jam sebelum ujian Statistik, gue malah nonton The Pianist. Jadinya pas ujian ga konsen karna nontonnya baru setengah dan itu lagi sedih-sedihnya….
What a girl…. What an Exam Week…. Please, stop me…
Saya dong, bangga, gak pernah tidur di kelas. Dari SMP sampe kuliah.
kereeeeeeeeen
bagi-bagi tips dong bang asop