Nui and Trichotillomania (Indonesian)

Hello, world! It’s World Mental Health Day!

Untuk sedikit berpartisipasi, gue mau cerita-cerita sedikit soal sesuatu yang tadinya gue gatau kalo ini adalah masalah kesehatan mental. Yes. Gue ga pernah nyangka kalo kebiasaan buruk gue ini ada “namanya”. Gue ga pernah pergi ke psikolog atau psikiater sih. Jadi sebenernya gue juga bisa dibilang self diagnosed and actually, it’s bad to do this. Don’t follow me on this. Gue ngerasa ini ga terlalu mengganggu keseharian gue sekarang. Jadi, kalau kebiasaan buruk kalian udah mengganggu sampai pada tahap membahayakan diri sendiri dan orang sekitar, please, seek for help! That’s my disclaimer. Oh iya, mungkin tulisan gue ini BISA JADI trigger juga buat beberapa orang. So, stop reading if you find this disturbing.

What is Trichotillomania?

Definisi yang diambil dari web NHS :

Trichotillomania, also known as trich, is when someone can’t resist the urge to pull out their hair.

Kalian bisa baca-baca di sini juga lebih lengkapnya >> https://www.nhs.uk/conditions/trichotillomania/

Yeah, trichotillomania adalah kondisi dimana lo suka mencabut rambut dengan sengaja dan lo gabisa berhenti dengan sendirinya. Kaya ada rasa puas gitu. Aneh ya? Permasalahannya ada ketika lo sadar kalo rambut lo tiba-tiba hilang banyak banget sampe pitak. Kalo lo ga pernah ngerasain, lo boleh ketawa sampe sini. Karena masalah Trich sebenernya ada di low self esteem dan depresi.

Si A stress >> A berpikir keras soal masalahnya sampai dia ga sadar dia mikir sambil cabutin rambutnya >> sejam kemudian dia baru sadar ada bald patches >> bingung nutupinnya gimana >> malu ketemu orang >> minder >> depresi menyalahkan diri sendiri >> berpikir keras lagi >> trich lagi >> bald patches lagi >> and so on….

Lingkaran setan….

So, bagaimana awalnya gue mulai terjebak di sini?

Dulu waktu masih SD, gue suka nginep di rumah nenek gue dan suka diminta cabutin uban nenek. Katanya gatel banget dan kalo udah dicabut tuh enak. Gue nurut aja dah soalnya gue gaada kerjaan juga. Ya, jadi yang berpikir Nui itu hobinya belajar, nope, gue hobi nyabutin uban.

Then, waktu itu setiap kali rambut gue gatel, gue berpikir, “apakah gue punya uban kaya nenek?” Karena penasaran dan tangan gue terlatih mengenali rambut uban, dengan sotoynya gue cabut rambut gue sendiri. Lalu gue berpikir, “kok item ya? Eh, tapi kok gatelnya berkurang?” Begitu terus sampe waktu berlalu dan gue ngelakuinnya sambil mikir hal-hal lain. Anak bocah namanya juga. Santai aja kagak sadar kalo rambut di ubun-ubunnya udah ilang. Pas diraba, kok ada kulit kepala ya?

Saat itu belum ada kamera hape. Jadi, setelah beberapa kali ga sadar nyabutin rambut tapi akhirnya sadar ada yang aneh, gue mengambil kaca kecil. Dan… syok! Gue yang dasarnya pemalu jadi tambah malu. Mampus gua. Kalo dikata-katain di sekolah gimana? Kalo ayah ibu tau gimana? Kalo ini… kalo itu….

Continue reading

Nui and Trichotillomania

Hello, world! It’s World Mental Health Day!

To participate, I want to share my story about a thing that I don’t know it’s a mental disorder at first. Yes. I never thought that my bad habit has a name. I never go seeing psychologist or psychiatrist. So, I’m actually doing self-diagnosis here. It’s a bad thing, dude. Don’t follow me on this. I think it’s not a burden for me to do daily activity now. So, if your bad habit bothers you A LOT you harm yourself and people around you, please, seek for help! That’s my disclaimer. AND, maybe my post here CAN BE a trigger for some people. If that’s so, stop reading this especially if you find this disturbing.

What is Trichotillomania?

The definition from NHS :

Trichotillomania, also known as trich, is when someone can’t resist the urge to pull out their hair.

You can find more information here >> https://www.nhs.uk/conditions/trichotillomania/

Yeah, that’s trichotillomania. You can’t stop and after doing that, it’s so satisfying somehow. Weird, isn’t it? The problem is when you realize your hair has gone A LOT and you have bald patches. If you don’t know how it feels, really, you can laugh now. The true evil is the low self esteem and depression.

Person A is stressing out >> A is thinking so hard and A didn’t notice he/she pulling his/her hair for the time being >> An hour later A finally notice there are bald patches >> A don’t have any idea to hide it >> it makes he/she feeling so ashamed and avoiding people around him/her >> low self esteem >> depression >> self blaming >> thinking about what he/she did again >> more trich >> more bald patches >> and so on….

Vicious circle….

So, what about me? How did I trap here?

When I was in elementary school, I used to sleep over with my Grandma and I often asked to pull out my Grandma’s grey hair. She said it’s so itchy and got better when the hair’s gone. I obeyed here since I didn’t have anything to do.

Then, every time my head felt so itchy, I’d think, “Do I have grey hair too, like Grandma?” Out of my curiosity, I pulled my own hair for the sake of finding grey hair.  After awhile, I’d think again, “Black hair? Why? Um, but the itchiness a lil bit gone, huh?” An hour or so passed. I pulled my hair and thought about various things. Oh such a child. Never thought that her hair in the top of her head was gone. I felt my head with my fingertips, “Is that head skin?”

That time, there’s no camera phone. So, after several times doing that stupid thing, I noticed there’s something wrong with my head, I grabbed a little mirror, and… shocked! Me, this super shy lil kid became more and more shy and ashamed. Oh, I’m dead! What if my schoolmate know this and bully me? What if my mom and dad know about this? What if….

Continue reading

Nui and Her Wedding Day

16 Maret 2019

Alhamdulillah, sah!

I never set goal for my wedding. Would it happen when I’m 21? 24? 25?

Well, this was my answer. I was 26.

I never imagine what it would like or how it should be.

Well, it’s not big, it’s not neat, but it’s done.

So, I want to thank my husband; for making it happen.
Thank you for our parents and family; their blessing and wisdom.
Thank you for our friends; their suggestion and help.
Thank you for our vendors; so it’s good enough to serve the guest.
Thank you for coming, all our honorable guest.

Vendors

Wedding venue : Gedung Pandansari, Taman Bunga Wiladatika
Catering and wedding package : Yani Catering (@yanicateringdecoration)
Bridal gown : Diamond Bridal (@diamond.bridal)
Make up and hijab do : Milla Yuswan (@millayuswan)
Henna : Nurjanah Dwi (@nurjanahdwis)
Invitation : Berkah Grafika, Pasar Tebet
Souvenir : Tas Lipat Souvenir (@taslipatsouvenir)

 

Nui and Karawang

OH MY GOD, it’s been a year!

moods-etc036

Lama juga ga nulis di blog ini lagi

Awal tahun ini gue baru saja resign dari kantor

Gue ngerasa udah cukup lama gue kerja disitu dan ga berkembang kebanyakan gabut *eh

Tempat gue kerja juga cukup jauh dari Jakarta

Dan gue lagi banyak yang harus diurus di Jakarta

Jadi males juga bolak balik tiap minggu dan harus cuti di hari biasa

Daripada gue jadi ga fokus dan sakit-sakitan, mending gue menetap di Jakarta

Yak, itu sepenggal motif gue resign dari kantor

moods-etc051

Di Karawang sebenernya hidup gue enak si, ga terlalu stress dan lingkungannya juga udah kaya Cibubur, akses kemana-mana lumayan gampang tapi yah, that’s my final decision

Di postingan kali ini gue mau list seluk beluk kota Karawang yang udah jadi tempat singgah gue selama 2 tahun

How to get to my office

From Jakarta to Karawang

Biasanya, gue ke Karawang hari Minggu sore atau hari Senin pagi

Kalo gue lagi pergi ke luar gitu hari Minggu, gue bakalan langsung balik ke Karawang sore itu juga instead of balik ke rumah

Karena kalo gue balik ke rumah, gue bakalan capek sendiri dan ga mampu bangun subuh terus akhirnya gue masuk angin, sakit, kesiangan dll

moods-etc054

Dari rumah biasanya gue gojek biar cepet lalu naik mobil

Nah naik mobilnya ini ada beberapa opsi sebenernya

Gue bisa aja ke Kampung Rambutan yang lebih deket dari rumah tapiii gue nanti jadinya naik Agramas atau Warga Baru

Mereka lebih murah si (Rp 16000an) tapi nunggunya lama dan pasti penuuuh banget

Gue pernah naik Agramas Minggu sore dan itu penuh banget harus berdiri

Saat itu gue bawa laptop juga jadi yah, malesin bat kan

moods-etc039 Continue reading

Nui and 2017

Oh my God.

Is twenty-seventeen already over?

Well, let’s take a look over my back.

Work

Tahun ini  hidup gue full ada di tempat kerja gue yang sekarang.

Gue harus tinggal di mes karena gue ditempatin di luar Jakarta.

Bertolak belakang banget sama tahun 2016.

Gue, yang masih nyaman sama kegabutan di rumah, mulai adaptasi dan sulit banget buat gue karena harus tinggal sama orang-orang baru.

Even I spend almost my 24/7 with them till now.

As an introvert, that’s really hard.

Gue berkali-kali mikir buat resign.

Bukan karena jauh dari rumah. Kuliah gue kan dulu di Bogor juga.

Tapi ini gara-gara gue ga sreg sama SATU ORANG.

Gila. Sebenci itu gue.

Kalo dipikir-pikir kok gue malah tambah ga dewasa.

But, I learned that it’s okay to dislike something than faking it when you keep bleeding.

Jadilah emosi gue naik turun tahun ini karena si satu orang itu.

Sampai akhirnya dia dipindah dan YES! gue bisa jadi diri gue sendiri.

Kedengerannya jahat ya saya.

Continue reading

Nui and The Rest of Her Life Span

25.

Twenty Five.

Banyak orang yang nganggep umur 25 itu sebagai “a quarter time of their life”. Seperempat dari hidupnya.

Well, it works if you have 100 years to live.

Kalo umur lo sampai 50 tahun berarti “half” dong.

Kalo lo cuma hidup sampai 25 tahun 364 hari, hmm, 25 is the end of your life.

So, how many time I got left, I’m thankful for ever being 25.

Many people even didn’t have the chance to land here.

=

Di postingan terakhir gue keliatan lagi stress berat karena hidup gue gitu-gitu aja, ga ada kegiatan, stuck, nganggur, etc.

Sekarang gue udah kerja, udah ga gabut di rumah (tapi gabutnya di kantor… eh….) dan udah ga galau-galau soal cowo lagi.

Ada masalah-masalah yang lebih baru dan ga kebayang sama gue sebelumnya.

Tapi, begitulah hidup.

=

Hari ini gue abis nonton 13 Reasons Why. Maraton di Netflix dari kemaren.

Bikin gue mikir soal hidup gue, orang-orang di sekitar gue dan pikiran-pikiran yang ada selama ini.

Nonton atau baca sesuatu tentang suicide selalu bikin gue baper.

I used to be an over-thinking person. Well, I still am.

Orang-orang di sekitar gue mungkin sadar kalo gue agak “aneh”.

Sejak dahulu kala, gue pendiem.

Pas punya kamar sendiri, gue sering ngunci diri di kamar.

Gue suka marah-marah ga jelas.

Kadang jutekin orang yang ga ngelakuin kesalahan apapun ke gue.

Mood gue kadang bagus, kadang berantakan.

Kadang wise, kadang childish ga ketulungan.

Gue sering nge-judge diri gue sendiri.

Anxiety.

Mood swing.

Bipolar.

Drama Queen.

Introvert.

Dermatillomania.

Trichotillomania.

A shut-in.

Irresponsible adult.

And so on.

Ah, don’t forget the thoughts of suicidal.

But, that’s me.

Nur Fitriyani.

Apapun yang terjadi, apapun yang gue lakuin, gue berusaha untuk bertahan.

Being a “super” ordinary girl is hard, you know. It’s underrated.

Yah, mungkin masalah hidup gue ga seribet masalah hidup orang lain.

Tapi ga punya masalah itu juga masalah.

Gue pikir ketika gue ga punya masalah, hidup gue bisa tenang.

Hell no.

Gue jadi ngebayangin kalo gaada yang peduli sama gue.

Gue ga ada gunanya.

Lalu sedetik kemudian gue mulai cari masalah.

Contohnya?

Muka udah mulus, tinggal satu jerawat yang sebenernya ga ganggu, gue garuk sampe luka.

Dicoba diobatin malah tambah parah.

Sampe orang-orang pada ngira gue kesiram minyak panas.

That’s silly.

Scars can heal and gone.

But the impression of others about me will stay.

It sucks for being too honest about yourself.

And it makes people think I am strange and scared of me.

It’s me, gue sendiri yang bikin lukanya. Gue sendiri yang cari masalah.

Salah gue sendiri, bukan orang lain.

Dasar attention seeker.

Oh, man, I’m over-thinking again, ain’t I?

=

I’m sorry that you’ve wasted your time here.

Let’s just live our life.

And forget what you read.

Nui and Her Stagnant Life

<< Landon Pigg and Lucy Schwartz – Darling I Do >>

This is the song that I play repeatedly very now, while I am writing this post. It’s my habit so I can focus and stop worrying.

Worry.

Do I now?

Udah lama banget gue ga nulis hal yang personal disini.

Padahal blog ini gue buat supaya gue bisa nuangin apa yang ada di otak gue dan jadi memento buat diri gue sendiri.

14479705_10205719585064004_4586322456707599375_n

Tujuh tahun gue sayang-sayang blog ini.

Ganti ini-itu. Nulis ini-itu. Nambahin widget ini-itu.

Gue gamau blog ini cuma jadi ajang nyari viewers. Dan begonya, itu yang lagi gue usahain.

Review ini-itu. Nulis kata-kata orang lain. Ribet nyari gambar orang lain.

Gue kaya hilang arah.

Well, I actually am.

Setahun stuck setelah resmi S.Gz.

Sarjana Gizi.

Apalah arti gelar kalo kita gamau usaha.

Apalah arti gelar kalo males-malesan.

Apalah arti gelar kalo ga punya kenalan.

Apalah arti semua ini…

Apalah apalah apalah…

Tujuh tahun lalu, gue baru lulus SMA.

Langsung ikut tes ini-itu. Universitas sampai sekolah tinggi kedinasan.

Gagal? Sering. Berhasil? Sekali.

Kuliah? Ngga.

Setahun nganggur.

Bagi sebagian orang itu mimpi buruk. Sebagian lagi santai, nikmatin yang ada.

Ketika itu gue jadi yang santai.

Karena gue masih merasa mampu buat kuliah.

Terbukti setahun kemudian gue…. gagal tes perguruan tinggi berkali-kali dan berhasil sekali.

Akhirnya masuk IPB. 5 tahun kemudian gue wisuda.

Jadi Sarjana Gizi.

Apalah arti gelar…. *yah balik lagi kan.

Dan sekarang gue nganggur lagi setahun dan gue berubah jadi yang satunya.

Mimpi buruk.

Dan, lebih horor lagi, setiap hari gue liat orang-orang lalu lalang dengan hidupnya yang ramai.

That’s silly, right?

Grieving on other people lives.

What a foolish.

Just get up and work on your damn own life!

But I just can’t.

Yeah, I know, loser of the year.

Oh, let me curse myself, please.

I’m tired of people thinking about me.

“Kasian ya…”

“Oh belom kerja…”

“Males banget gamau usaha…”

“Dulu gamau organisasi sih…”

“Ga punya temen yang bisa bantu ya…”

“Udah nikah aja…”

“Udah nunggu dilamar aja…”

and so on and on and on.

Sigh, or maybe it’s just me thinking about me and people like me.

(For you, who start thinking ‘gue ga mikir kaya gitu kok…’ Sorry, I’m blocking your mind.)

It sounds selfish and ignorant. But, that’s the honest people are.

I think.

They hurt others with their words, don’t they?

Because the truth must be sharp.

And I try to be true to myself.

Then I hope it could kill me inside.

Nui and The Girl Who Leapt Through Time

Bonjour, ça va?

38eae-moods-etc9

Haha. Sok-sokan pake bahasa perancis.

Yak, abaikan. Beberapa bulan ini bokap mulai masang internet unlimited di rumah dan ternyata musim panas ini banyak dorama bagus penuh cinta. Gue jadi kutu dorama lagi deh.

Salah satunya ini.

Toki o Kakeru Shoujo.

Gadis yang dapat melompati waktu.

The Girl Who Leapt Through Time.

Satu kisah yang entah kenapa dibikin ulang terus.

Pertama kali gue nonton yang versi anime, tahun 2006.

source

Bercerita tentang seorang gadis yang ga sengaja bersentuhan dengan sebuah alat berbentuk biji kenari. Ternyata kenari itu milik seorang cowo dari masa depan. Gara-gara alat ini, dia jadi bisa pindah-pindah waktu. Awalnya dia gunain alat itu buat menyelamatkan dirinya sendiri yang nyaris kecelakaan. Eh, lama-lama dia seenaknya pake buat hal-hal ga penting. Sampai akhirnya satu hal penting itu datang, tapi semuanya udah gabisa diulang lagi. Mungkin.

moods-etc030

Pas lagi liat-liat artikel upcoming summer dorama 2016, ternyata ada yang judulnya sama.

capture3

Continue reading

Nui and Orange

Konbanwa, minna~

Hisashiburi!

38eae-moods-etc9

Maap jadi alay jejepangan gini karena gue kemaren lusa abis nonton film Jepang judulnya Orange.

click image for source

Pertama sih nonton karena ratingnya bagus dan pemain itu yang main juga di drama Mare. Yamaken!

Tapi ternyata ceritanya juga bagus banget. Bagus karena related sih sama yang gue rasain.

Ceritanya soal satu cewe yang berusaha menghindari hal-hal yang akan disesalinya di masa depan. Dia dapet surat dari dirinya sendiri sepuluh tahun mendatang. Dia di masa depan ini berharap dengan melakukan hal-hal yang dulu dia tahan-tahan mungkin bakalan bisa mencegah seorang cowo yang disukainya bunuh diri.

moods-etc038

Continue reading

Nui and Slytherin Scarf (pattern inside)

Assalamu’alaikuuuum!

38eae-moods-etc9

Kali ini aku mau posting karya terbaru, yaitu Slytherin Scarf.

Bagi pecinta Harry Potter, pasti udah tau dong, Slytherin adalah salah satu “rumah” atau House yang ada di Sekolah Sihir Hogwarts. Nah, pacarku itu fan-nya Severus Snape, which is dia dulu tinggal di Slytherin House selama sekolah di Hogwarts. Jadi aku bikin scarf ini buat pacarku. Contohnya seperti ini :

6e7fbd3882d6ae855e3d751687877890[1]

click pict for the source

Pertama-tama aku cari pola-polanya di internet. Dapatlah pola gratis disini. Cuman kayanya kok look-nya kurang yah kalo pakai hdc. Aku cari stitch yang pas buat cowo dan kalo bisa lebih rapat. Ternyata ga ada (atau aku yg nyarinya belom tuntas). Soooo, aku buat aja sendiri.

Dari dulu aku pengen belajar tunisian crochet stitch tapi masih gatau mau bikin apa dari stitch ini. Soalnya teksturnya bagus, rapi macam knit. Aku browsing dan belajar dan mulai eksperimen. Aku belum punya hook khusus tunisian stitch jadi aku masih pakai hook yg biasa (Tulip Gold).

Eksperimen pertama aku :

C360_2016-04-25-07-41-24-422_org

Whaaaaat??? Kok jadi mengulung beginiii?? terus jadi kasar, ga halus dan ga fluffy.

moods-etc032

Apakah yang salah? Continue reading